KESALAHAN DALAM BERBAHASA INDONESIA
Mitha Shaskila Sinaga
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
Email: mithashaskilasinaga@gmail.com
Abstrak: Salah satu kesalahan dalam berbahasa Indonesia yaitu dengan menggunakan bahasa yang bergeser dari kaidah bahasa yang aktif dengan bahasa tersebut. Ada tiga alasan seseorang menggunakan kesalahan berbahasa, yaitu (a) terhasut oleh bahasa yang telah dikuasai sebelumnya, (b) kurangnya pemahaman pengguna bahasa dengan bahasa yang digunakannya, dan terakhir (c) tidak tepatnya dalam pengajaran bahasa. Kekeliruan yaitu suatu penggunaan bahasa Indonesia yang bergeser dari kaidah bahasa yang berlaku pada bahasa tersebut, namun tetap tidak dianggap sebagai pelanggaran dalam bahasa. Kekeliruan bahasa Indonesia dikarenakan dari faktor performansi, dan kesalahan bahasa Indonesia dikarenakan dari faktor kemampuan. Faktor performansi termasuk keterbatasan memori atau kelupaan, mengakibatkan kekeliruan pengucapan, bentuk kata, urutan kata, istilah kalimat, paragraf, dan lain-lain. Kekeliruan ini berkarakter acak, yang berarti dapat terjadi tantaran linguistik. Kekeliruan dapat dibetulkan oleh siswa ataupun pelajar yang berhubungan dengan cara fokuskan perhatian dalam pembelajaran. Namun kesalahan yang dikarenakan oleh eh faktor kemampuan yaitu dikarenakan oleh siswa ataupun pelajar yang tidak menguasai sistem linguistik yang dikenakan. Kesalahan berbahasa akan banyak terjadi bila pemahaman maupun kemampuan pelajar atau siswa yang berhubungan dengan sistem bahasa kurang. Kesalahan dalam berbahasa jika tidak diperbaiki akan berlangsung lama.
Kata kunci: Bahasa, Kesalahan, Kekeliruan.
Abstract: An error in speaking Indonesian is the use of language that deviates from the language rules that apply in that language. There are three causes of a person’s error in using language, including (a) being influenced by the language that was previously mastered, (b) lack of understanding of language users on the use of the language they use, (c) inappropriate language teaching. Meanwhile, mistake in the use of Indonesian that deviate from the rules of the language that apply in that language are not seen as a language violation. Mistake in Indonesian are caused by performance factors, while the Indonesian language errors are caused by the competence factor. Performance factors include memory limitations or forgetfulness, causing mistake in pronouncing language sounds, word forms, word order, word stress, sentence terms, paragraphs and so on. This mistake is random, meaning that it can occur at various linguistic levels. Mistake can usually be corrected by the students concerned by focusing more on learning. While errors caused by the competence factor are errors caused by students not understanding the linguistic system of the language they use. Language errors will often occur if students’ understanding of the language system is lacking. Language errors can last a long time if not corrected.
Key words: Language, Error, Mistake.
Pendahuluan
Apa itu bahasa? Bahasa merupakan suatu bagian terpenting yang mendukung kemenangan eksplorasi di segala bidang penelitian. Bahasa telah menjadi alat komunikasi yang bermakna, sehingga jika tidak ada bahasa maka akan sulit bagi manusia untuk mengungkapkan pendapat, pikiran, dan gagasannya. Di aktivitas sehari-hari, kita menggunakan bahasa untuk memproses berpikir, mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Bahasa merupakan sistem lambang bunyi yang berguna dan jelas (dihasilkan oleh alat bicara), arbitrer dan konvensional, serta dapat digunakan sebagai alat komunikasi dalam sekelompok orang untuk menciptakan emosi dan pikiran (Wibowo, 2001: 3). Melalui bahasa, manusia dapat memberikan pemikiran dan gagasan baik secara verbal maupun nonverbal. Secara verbal, ungkapan bisa langsung menyampaikan dari pikiran seseorang. Secara non verbal ungkapan dapat disampaikan dengan cara disusun melalui bahasa tulis. Dalam bahasa penting atau tidaknya dapat ditinjau yaitu sebagai banyaknya penutur, penyebaran dalam luas daerah, dan dipakai dalam sarana ilmu pengetahuan, susastra, bahkan budaya.
Pergunakanlah bahasa Indonesia dengan baik maupun benar! Kalimat ini sudah ah tidak asing lagi di telinga kita sebab app ataupun membacanya dan timbul sebuah pertanyaan, yaitu "apakah bahasa Indonesia yang baik dan benar belum tercapai?" Untuk menjawab pertanyaan ini dilakukan dengan menganalisis kesalahan dalam berbahasa. Dengan menganalisis kesalahan bahasa dapat digunakan sebagai bahasa yang baik dan benar. Dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar tidak jauh dengan bahasa baku. Bahasa yang baik adalah bahasa Indonesia dalam melengkapi faktor berkomunikasi dan memiliki nilai massa yang tepat dan sesuai dengan situasi maupun kondisi pemakaiannya, kemudian bahasa yang benar adalah suatu bahasa Indonesia dengan mengaplikasikan kaidah ataupun tata bahasa dengan konsisten dalam kebahasaan.
Pengertian Kesalahan Berbahasa Indonesia
Kesalahan berbahasa adalah suatu problem yang tidak simpel, namun dapat menjadi tidak adanya problem tersebut yang harus diperiksa dalam kesalahan berbahasa. Kesalahan berbahasa mempunyai penjelasan bermacam-macam. Corder (1974) memakai tiga istilah untuk membentuk kesalahan dalam berbahasa: 1) Lapses, 2) Error, dan 3) Mistake.
Menurut Burt dan Kiparsky dalam Syafi'ie (1984), istilah yang digunakan dalam kesalahan bahasa dengan "goof", "goofing" dan "gooficon". Pada saat yang sama, menurut Huda (1981), istilah “kekhilafan (Error)” digunakan dalam kesalahan bahasa. Kemudian Tarigan (1997) menggunakan istilah “kesalahan bahasa” untuk mengungkapkannya.
Lapses, Error, dan Mistake adalah istilah-istilah dalam bidang kesalahan bahasa. Ketiga istilah ini memiliki area yang berbeda untuk dapat melihat kesalahan bahasa. Corder (1974) menjelaskan:
1) Lapses
Lapses adalah kesalahan berbahasa karena penutur beralih untuk mengungkapkan sesuatu sebelum seluruh tuturan (kalimat) dinyatakan sepenuhnya. Kesalahan pada akhirnya terjadi karena ketidaksengajaan atau ketidaksadaran pembicara.
2) Error
Error adalah kesalahan berbahasa yang disebabkan oleh penutur yang melampaui kaidah dalam aturan tata bahasa. Kesalahan terjadi karena penutur sudah mempunyai aturan (kaidah) yang berbeda dengan tata bahasa lain, yang berdampak pada ketidakmampuan penutur. Ini mungkin terkait dengan penggunaan bahasa, dan kesalahan bahasa disebabkan oleh penggunaan aturan bahasa yang salah oleh penutur.
3) Mistake
Mistake adalah kesalahan bahasa yang disebabkan oleh pilihan kata atau ekspresi pembicara yang tidak tepat dalam situasi tertentu. Kesalahan ini mengacu pada kesalahan bahasa yang disebabkan oleh penutur yang salah menggunakan aturan yang benar, daripada kurangnya penguasaan bahasa kedua (B2).
Huda (1981) menyebutkan bahwa kesalahan bahasa yang dilakukan oleh siswa (anak-anak) yang mempelajari bahasa kedua disebut sebagai kekhilafan (Error). Menurut Nelson Brook dalam Syafi'ie (1984), kekhilafan (Error) adalah “kejahatan/kesalahan” yang harus dijauhkan dan efeknya harus dibatasi, namun kekhilafan tersebut tidak bisa dijauhkan pada pembelajaran kedua.
Ditegaskan oleh Dulay, Burt maupun Richard (1979), kekhilafan akan selalu yang ada berapa pun usaha pencegahan dilakukan, tidak ada seorang pun dapat belajar bahasa tanpa adanya kekhilafan (kesalahan) dalam berbahasa. Menurut temuan kajian dalam bidang psikologi kognitif, setiap anak yang belajar dalam bahasa kedua (B2) selalu membangun bahasa melalui proses kreativitas.
Oleh karena itu, kekhilafan adalah hasil atau petunjuk kreativitas, bukan dari kesalahan bahasa. Kekhilafan sering terjadi, dan anak-anak (siswa) selalu mengalami kesalahan dalam proses, memperoleh, dan mempelajari bahasa kedua. Inilah makna logis dari proses pembentukan kreatif siswa (anak-anak).
Kesalahan berbahasa dianggap sebagai bagian dari proses belajar bahasa. Ini bermakna bahwa kesalahan berbahasa merupakan bagian integral dari pemerolehan dan pengajaran bahasa.
Pengajaran bahasa Indonesia adalah setelah pengajaran bahasa kedua atau pertama (B1). Kesulitan dan kesalahan (error) dalam menggunakan bahasa Indonesia dalam proses pembelajaran menjadi masalah. Dikarenakan, analisis kesalahan bahasa dapat digunakan sebagai jalan keluar dari pengajaran bahasa Indonesia. Dengan menganalisis kesalahan berbahasa, kesulitan dan kesalahan siswa dalam berbicara bahasa Indonesia dapat diidentifikasi, dan hasilnya dipakai sebagai meluruskan dari pengajaran bahasa.
Tujuan pengajaran bahasa Indonesia adalah sebagai berikut :
a) memiliki keterampilan berbahasa Indonesia
b) memiliki pengetahuan dalam berbahasa Indonesia
c) memiliki sikap yang baik terhadap bahasa Indonesia
Keterampilan bahasa Indonesia yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Pengetahuan dalam berbahasa Indonesia seperti lafal, ejaan, istilah, dan kaidah. Namun, sikap positifnya yaitu bangga, setia, suka menggunakan bahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia yang baik dan benar merupakan bahasa yang berparameter, meliputi faktor penentu dalam berkomunikasi dan kaidah kebahasaan. Jadi, penggunaan bahasa Indonesia yang di luar faktor penentu komunikasi bukan bahasa yang benar dan berbeda kaidah kebahasaannya, dan yang dalam bahasa Indonesia bukan bahasa yang baik.
Faktor penentu dalam berkomunikasi, yaitu sebagai berikut:
1) Siapa yang berbahasa dengan siapa;
2) Untuk tujuan apa;
3) Dalam situasi apa (tempat dan waktu);
4) Dalam konteks apa (partisipan, kebudayaan dan suasana);
5) Dengan jalur mana (lisan atau tulisan);
6) Dengan media apa (tatap muka, telepon, surat, koran, buku, media komunikasi lain: Hp, Internet);
7) Dalam peristiwa apa (bercakap, ceramah, upacara, lamaran pekerjaan, pelaporan, pengungkapan perasaan).
Kesalahan berbahasa Indonesia adalah penggunaan bahasa Indonesia, secara lisan maupun tertulis, yang berada di luar atau menyimpang dari faktor-faktor komunikasi dan kaidah kebahasaan dalam bahasa Indonesia (Tarigan, 1997).
Kesalahan berbahasa adalah penggunaan bahasa yang menyimpang dari kaidah bahasa yang berlaku dalam berbahasa. Sementara itu kekeliruan adalah penggunaan bahasa yang menyimpang dari kaidah bahasa yang berlaku dalam bahasa itu namun tidak dipandang sebagai suatu pelanggaran berbahasa.
Kekeliruan terjadi pada anak (siswa) yang belajar bahasa. Kekeliruan berbahasa cenderung diabaikan dalam analisis kesalahan berbahasa karena sifatnya tidak acak, individual, tidak sistematis, dan tidak permanen (bersifat sementara). Jadi, analisis kesalahan berbahasa difokuskan pada kesalahan berbahasa berdasarkan penyimpangan kaidah bahasa yang berlaku dalam bahasa itu.
Proses Terjadinya Kesalahan Berbahasa
Analisis kesalahan berbahasa berkaitan erat dengan proses belajar dan mengajar bahasa. Terjadinya kesalahan berbahasa di kalangan siswa yang sedang belajar bahasa, terutama belajar bahasa kedua, merupakan fenomena yang mendorong para ahli pengajaran bahasa untuk mempelajari kesalahan berbahasa.
Dari Pelajaran tentang kesalahan berbahasa dapat diketahui bahwa proses terjadinya kesalahan berbahasa berhubungan erat dengan proses belajar bahasa. Kesalahan berbahasa merupakan gejala yang inherent (suatu yang tidak bisa lepas) dengan proses belajar bahasa. Oleh karena itu, untuk memahami proses terjadinya kesalahan berbahasa, terutama di kalangan siswa yang sedang belajar bahasa, diperlukan pemahaman tentang konsep-konsep belajar bahasa.
Penguasaan bahasa, baik bahasa pertama maupun bahasa kedua, diperoleh melalui proses belajar. Proses penguasaan bahasa pertama bersifat alamiah, disebut sebagai pemerolehan bahasa (language acquisition). Proses penguasaan bahasa pertama berlangsung tanpa perencanaan yang terstruktur. Secara langsung anak-anak memperoleh bahasanya melalui kehidupan sehari-hari dalam lingkungan, keluarga, dan masyarakatnya. Setiap anak yang normal secara fisik, psikis, dan sosiologis, pasti mengalami proses perolehan bahasa pertama.
Proses ini berlangsung tanpa disadari oleh anak bahwa dia sebenarnya dalam proses belajar menguasai bahasa. Anak juga tidak menyadari motivasi apa yang mendorongnya berada dalam kondisi perolehan bahasa itu. Proses penguasaan bahasa kedua, yang terjadi setelah seseorang menguasai bahasa pertama, disebut belajar bahasa (language Learning). Proses belajar bahasa kedua pada umumnya berlangsung secara terstruktur di sekolah melalui perencanaan program kegiatan belajar-mengajar yang sengaja disusun untuk keperluan itu. Dalam proses ini, si pembelajar menyadari bahwa dia sedang belajar bahasa. Dia juga menyadari motivasi apa yang mendorongnya untuk menguasai bahasa kedua. Seorang pembelajar bahasa kedua berusaha menguasai bahasa kedua karena motivasi instrumental atau mungkin karena motivasi integratif.
Perbedaan antara language acquisition dan language learning sebenarnya bukan perbedaan yang sangat mendasar. Perbedaan antara proses penguasaan bahasa pertama dan bahasa kedua, yang didasarkan pada ada atau tidak adanya kesadaran pembelajar terhadap apa yang dilakukannya, bukanlah perbedaan yang bersifat tegas. Dalam kenyataannya, dalam proses penguasaan bahasa pertama maupun bahasa kedua, si pembelajar menyadari usahanya untuk menguasai bahasa. Perbedaan tingkat kesadarannya bersifat relatif sama.
Demikian perbedaan antara penguasaan bahasa pertama dan bahasa kedua yang didasarkan pada terstruktur atau tidaknya proses belajar, juga tidak selalu tegas. Proses belajar bahasa kedua juga bisa berlangsung secara alamiah, dalam arti si pembelajar secara langsung belajar bahasa kedua melalui kehidupan sehari-hari dalam lingkungan masyarakat (bahasa kedua yang dipelajarinya).
Proses belajar bahasa bersifat kompleks. Proses ini menyangkut aspek psikis maupun fisik pembelajar. Terkait dengan aspek psikis, belajar bahasa adalah proses mental yang di dalamnya berisi aktivitas psikologis, sedangkan aspek fisik belajar bahasa berkaitan dengan perkembangan kematangan berbagai organ bicara. Proses terjadinya kesalahan berbahasa berkaitan dengan aspek psikis maupun fisik.
Dulay, Burt, dan Krashen (1982) membedakan wilayah taksonomi kesalahan berbahasa menjadi empat, yakni (1) taksonomi kategori linguistik, (2) taksonomi kategori strategi performansi, (3) taksonomi kategori komparatif, dan (4) taksonomi kategori efek komunikasi. Dalam konteks penelitian ini, wilayah taksonomi yang dijadikan titik pijak adalah taksonomi kategori linguistik, yakni kesalahan tataran fonologi, kesalahan tataran morfologi dan sintaksis, kesalahan tataran semantik dan kata, serta kesalahan tataran wacana.
Kesalahan Tataran Fonologi
Kesalahan berbahasa pada tataran fonologi meliputi perubahan pengucapan fonem, penghilangan fonem, dan perubahan bunyi diftong menjadi bunyi tunggal atau fonem tunggal. Analisis kesalahan berbahasa pada tataran morfologi terbagi atas kesalahan afiksasi, kesalahan reduplikasi, dan kesalahan pemajemukan (Utami, 2017).
Sumber kesalahan itu terdapat pada tataran berikut:
1) Fonem /a/ diucapkan menjadi /e/.
2) Fonem /i/ diucapkan menjadi /e/.
3) Fonem /e/ diucapkan menjadi /é/.
4) Fonem /é/ diucapkan menjadi /e/.
5) Fonem /u/ diucapkan menjadi /o/.
6) Fonem /o/ diucapkan menjadi /u/.
7) Fonem /c/ diucapkan menjadi /se/.
8) Fonem /f/ diucapkan menjadi /p/.
9) Fonem /k/ diucapkan menjadi /?/ bunyi hambat glotal.
10) Fonem /v/ diucapkan menjadi /p/.
11) Fonem /z/ diucapkan menjadi /j/.
12) Fonem /z/ diucapkan menjadi /s/.
13) Fonem /kh/ diucapkan menjadi /k/.
14) Fonem /u/ diucapkan/dituliskan menjadi /w/.
15) Fonem /e/ diucapkan menjadi /i/.
16) Fonem /ai/ diucapkan menjadi /e/.
17) Fonem /sy/ diucapkan menjadi /s/.
18) Kluster /sy/ diucapkan menjadi /s/.
19) Penghilangan fonem /k/.
20) Penyimpangan pemenggalan kata.
Kesalahan bunyi bahasa, sesuai dengan sistem bahasa Indonesia, ketidaktepatan mengucapkan atau melafalkan fonem-fonem merupakan gejala penyimpangan atau kesalahan berbahasa Indonesia. Kesalahan tersebut merupakan kesalahan berbahasa Indonesia dalam bidang fonetik. Dalam kenyataan berbahasa Indonesia, kesalahan seperti itu tidak jarang terjadi.
a) Paragog, dalam kesalahan ini pemakai bahasa menambahkan bunyi tertentu pada bagian akhir kata tanpa mengubah makna kata itu. Contoh: /mampu/ menjadi /mampuh/, Rapi/ menjadi /rapih/, dan /Musna/ menjadi /musnah/.
b) Aferesis, dalam hal ini pemakai bahasa kehilangan bunyi awal kata yang harus diucapkan tanpa mengubah makna kata itu. Contoh: /hitam/ menjadi /itam/,/hidup/ menjadi /idup/, dan /hujan/ menjadi /ujan/.
c) Sinkop, dalam kesalahan ini pemakai bahasa menghilangkan bunyi tertentu di tengah kata, tanpa mengubah makna kata itu. Contoh: /bahumEmbahu/ menjadi /baumEmbau/, dan /pEndidikan/ menjadi /pEndidi’an/.
d) Apokop, di sini pemakai bahasa menghilangkan ucapan bunyi akhir kata tanpa mengubah makna kata itu. Contoh: /jodoh/ menjadi /Jodo/, dan /bodoh/ menjadi /bodo/.
e) Asimilasi, dalam hal ini ada dua bunyi yang berbeda, yang oleh pemakai bahasa dijadikan bunyi yang sama. Contoh: /bEnar/ menjadi /bEnEr/, /sEgan/ menjadi /sEgEn/, dan /cEpat/ menjadi /cEpEt/.
f) Desiminasi, dalam hal ini bunyi yang sama dijadikan tidak sama. Contoh: /harap/ menjadi /harEp/, /pantas/ menjadi /pantEs/, dan /malam/ menjadi /malEm/.
Kesalahan Tataran Sintaksis
Kesalahan berbahasa pada tataran sintaksis berupa kalimat tidak bersubjek dan tidak berpredikat, kalimat tidak berpredikat, penggandaan subjek, antara predikat dan objek yang tersisipi, kalimat yang tidak logis, kalimat yang ambigu, penghilangan konjungsi, penggunaan konjungsi yang berlebihan, urutan yang tidak paralel, penggunaan istilah asing, dan penggunaan kata tanya yang tidak perlu. Kesalahan berbahasa pada tataran semantik meliputi kesalahan penggunaan kata-kata yang mirip dan pilihan kata yang tidak tepat (Kurniadi, 2017). Kesalahan pada tataran wacana meliputi faktor kohesi dan faktor koherensi.
Dalam konteks penelitian ini, yang menjadi alat analisis kesalahan berbahasa ialah tataran morfologi. Tataran fonologi, sintaksis, tataran semantik, dan tataran wacana tidak menjadi alat analisis dalam penelitian ini karena data berupa morfem bahasa Indonesia ragam tulis yang terdapat pada ulasan buku atau resensi buatan mahasiswa.
Kesalahan Penyuntingan Teks
Kosasih (2014) menyatakan bahwa aspek yang harus diperhatikan dalam penyuntingan teks ulasan adalah ketepatan penulisan ejaan dan tanda baca. Teks ulasan berbentuk tertulis dalam bentuk makalah atau laporan, artikel ataupun esai. Bahasa yang digunakan cenderung baku. Teks ulasan pada umumnya diawali dengan penyampaian isu yang berupa identitas dan sinopsis karya yang akan diulas.
Struktur teks ulasan mencakup (1) pendahuluan sebagai pengenalan isu yang berisi identitas buku dan sinopsisnya; (2) analisis berupa argumen-argumen sebagai pembahasan atas kelebihan dan kekurangan dari unsur-unsur yang terkait tujuan dan manfaat penulisan, latar belakang penulis, bahasa yang digunakan, garis besar isi buku, kualitas substansi isi, kaver, dan cetakan; (3) penutup berisi simpulan kelebihan dan kekurangan serta saran atau rekomendasi buku untuk khalayak. Selain itu, perlu diperhatikan pula penggunaan kaidah-kaidah kebahasaan yang lazim digunakan dalam teks ulasan, yakni ketepatan penggunaan kata sifat, kata-kata bermakna perincian, dan kata-kata teknis bidang perbukuan. Ketepatan yang dimaksud berkenaan dengan makna, konteks penggunaan, dan ejaannya.
Kesalahan Segi Diksi
Kesalahan berbahasa dari segi diksi, dapat di uraikan sebagai (1) kebenaran kepemilikan dan pemakaian kata, memiliki ciri yaitu; penggunaan kata yang artinya tidak sesuai dengan konteks kalimat, penggunaan kata tugas secara tidak tepat, dan pembentukan kata yang salah. (2) penjelasan pemilihan dan pemakaian kata, memiliki ciri yaitu; penggunaan kata asing yang artinya menyimpang dari arti semula, dan penggunaan kata-kata yang tidak jelas maksudnya. (3) keefektifan Pemilihan dan Pemakaian Kata, memiliki ciri yaitu; penggunaan kata secara mubadzir, dan pemilihan dan penyusunan kata secara tidak tepat. (4) persesuaian pemilihan dan pemakaian kata, dapat dikatakan bahwa tidak sesuai jika tidak sesuai dengan ragam bahasa tulis ilmiah.
Kesalahan Bentuk Kata
Kesalahan berbahasa dari bentukan kata, faktor afiksasi memegang peranan penting dalam pemakaian bahasa Indonesia, khususnya dalam segi pembentukan kata. Menurut posisinya, afiks atau imbuhan bahasa Indonesia terbagi atas tiga macam yaitu awalan, akhiran, dan sisipan. Di antara ketiga jenis imbuhan, jenis imbuhan yang disebut terakhir, tidak begitu produktif dalam peristiwa pembentukan kata. Karena itu, kesalahan pemakaian jenis imbuhan tersebut tidak begitu banyak dilakukan para pemakai bahasa Indonesia jika dibandingkan dengan kedua jenis imbuhan lainnya.
Dalam kata bentukan awalan menduduki posisi awal kata. Awalan yang tinggi frekuensi pemakaiannya yaitu awalan me, ber, ter, ber, di, ke, ter, dan se. Di antara awalan itu, di samping ada yang memiliki bentuk yang tetap, terdapat pula yang mengalami perubahan bunyi. Ini memungkinkan para pemakai bahasa Indonesia melakukan kesalahan mengucapkan bentuk-bentuk tersebut. Kesalahan lainnya dapat terjadi dalam segi fungsi awalan itu, baik dalam segi gramatiknya maupun semantiknya. Kesalahan-kesalahan dalam pemakaian awalan akan kita analisis pada bagian ini.
Akhiran bahasa Indonesia produktif yaitu akhiran an, kan dan i. Akhiran ini tidak mengalami perubahan bentuk. Tetapi dalam segi fungsinya, banyak pemakai bahasa Indonesia melakukan kesalahan menggunakan akhiran ini. Kesalahan berbahasa Indonesia dalam bidang akhiran, akan dibahas pada bagian kedua.
Kesalahan Segi Kalimat
Kesalahan berbahasa dari segi kalimat, sering terjadi yaitu tentang kebenaran dalam kalimat, kejelasan dalam kalimat, keefektifan dalam kalimat, kesesuaian dalam kalimat, analisis dalam kebenaran kalimat, analisis dalam kejelasan kalimat, analisis dalam keefektifan kalimat, analisis dalam kesesuaian kalimat, penyusunan dalam kalimat di artikel ilmiah, kebenaran dalam kalimat, kejelasan dalam kalimat, dan kelogisan dalam kalimat.
Kesalahan Segi Paragraf
Kesalahan berbahasa dari segi paragraf yaitu sebagai berikut:
1) Kelengkapan isi paragraf
2) Kesatuan Penyajian Isi Paragraf
3) Penyusunan struktur paragraf
Kesalahan Segi Ejaan
Kesalahan berbahasa dari segi ejaan, yaitu sebagai berikut:
1) Tanda tanya (?), titik (.), titik koma (;), titik dua (:), tanda seru (!) ditulis rapat dengan huruf terakhir yang mendahuluinya.
2) Setelah tanda tanya (?), titik dua (:), koma (,), titik koma (;), tanda seru (!), harus ada satu spasi kosong.
3) Tanda petik (“...“) dan tanda kurung ( (...) ) diketik rapat dengan kata, frasa, atau kalimat yang diapit.
4) Tanda hubung (-), tanda pisah(-), dan garis miring (/) “diketik rapat dengan huruf yang mendahului dan yang mengikutinya. (dalam pengetikan, tanda pisah ditulis dengan menggunakan tanda hubung (—).
5) Tanda perhitungan: sama-dengan (=), tambah (+), kurang (-), kali (x), bagi (:), kecil (<), dan lebih besar (>) diketik dengan jarak satu spasi dengan yang di depannya atau yang di belakangnya. Huruf Kapital, penulisan kata, tanda titik (.), tanda Koma (,), tanda titik koma (;), tanda titik dua (:), tanda hubung (-), tanda tanya (?), tanda seru (!), tanda kurung ((...)), tanda garis miring (/), tanda elipsis (...), tanda petik (“..”), dan tanda petik tunggal (‘..’).
Penutup
Kesalahan berbahasa Indonesia sudah banyak terjadi pada saat ini. Seharusnya warga Indonesia menggunakan bahasa yang baik dan benar tanpa adanya kesalahan dalam berbahasa Indonesia. Kesalahan berbahasa adalah suatu bagian yang integral dalam proses pemerolehan dan pembelajaran bahasa kedua. Kesalahan itu bukan untuk dihindari atau dicaci maki melainkan sesuatu yang harus dipelajari. Kekhilafan atau kekeliruan (mistake) selalu terjadi pada anak (siswa) yang berada dalam proses pemerolehan dan pembelajaran bahasa.
Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah parameter atau alat ukur kesalahan berbahasa. Penggunaan bahasa Indonesia di luar parameter tersebut adalah bentuk kesalahan berbahasa. Apabila penggunaan bahasa di luar faktor-faktor berkomunikasi dan kaidah bahasa Indonesia yang disempurnakan (EYD Bahasa Indonesia), maka penggunaan bahasa itu dipandang salah.
Daftar Pustaka
Alfin, Jauharoti. 2018. Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia. Surabaya: LKiS.
Dian, Indihadi. 2011. Analisis Kesalahan Berbahasa. https://id.scribd.com/doc/304615452/Modul-Analisis-Kesalahan-Berbahasa. Diakses pada tanggal 3 Juni 2021.
Muslich, Masnur. 2010. Bahasa Indonesia Pada Era Globalisasi. Jakarta: Bumi Aksara.
Arifin, Zaenal, dkk. 2010. Bahasa Indonesia. Tangerang: Pustaka Mandiri.
Oktaviani, Feny, dkk. 2018. “Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia Pada Karangan Eksposisi Siswa Kelsa X MIPA (Studi Kasus Di SMA Negeri 4 Surakarta). Jurnal Penelitian Berbahasa, Sastra Indonesia dan Pengajarannya. Vol. 6, No. 1. ISSN: 12302-6405
Tidak ada komentar:
Posting Komentar